Hero section image background

MELALUI LITERASI DAN PENDIDIKAN: PERJUANGAN RADEN AYU LASMININGRAT BAGI KAUM PEREMPUAN

Senin, 19 Oktober 2026

Artikel

22

Postingan ini dilihat

0

Postingan ini dibagikan

Poster post MELALUI LITERASI DAN PENDIDIKAN: PERJUANGAN RADEN AYU LASMININGRAT BAGI KAUM PEREMPUAN

Kondisi perempuan pada masa kolonial tidak dapat lepas dari pandangan masyarakat yang menempatkan perempuan pada posisi kelas dua, di mana kedudukan kaum perempuan berada di bawah kedudukan kaum laki-laki. Kondisi tersebut membuat kesempatan mendapatkan pendidikan secara formal belum dapat dirasakan oleh sebagian besar perempuan.

Di tengah keterbatasan tersebut, Raden Ayu Lasminingrat memiliki kesempatan belajar yang cukup istimewa. Raden Ayu Lasminingrat merupakan salah satu tokoh perempuan kelahiran Garut yang termasuk keturunan keluarga menak atau ningrat. Ayahnya, Raden Haji Muhammad Musa, seorang Patih Kabupaten Limbangan dan dikenal sebagai sastrawan Sunda (Harpiah et al., 2018). Namanya tidak sepopuler R.A. Kartini dan Raden Dewi Sartika, tetapi jejak perjuangannya menunjukkan adanya kesadaran mengenai pentingnya pendidikan bagi perempuan.

Berkat dukungan sang Ayah, Raden Ayu Lasminingrat memperoleh kesempatan untuk belajar di rumah Kontroleur Levisan atau pendidikan yang dikelola oleh keluarga Belanda (Harpiah et al., 2018). Di tempat tersebut, Lasminingrat tidak hanya belajar membaca dan menulis, melainkan mempelajari bahasa Belanda, serta pengetahuan yang berkaitan dengan perempuan. Kemampuan bahasa Belanda merupakan salah satu hal yang jarang didapatkan oleh perempuan pribumi pada masa kolonial. Kemampuan tersebut menjadi modal utama dalam perkembangan pemikirannya, sekaligus pembuka jalan bagi dunia pendidikan dan sastra Sunda.

Kemampuan Lasminingrat dalam berbahasa Belanda menjadi salah satu bagian penting dalam karya-karyanya. Lasminingrat memanfaatkan kemampuannya untuk menerjemahkan bacaan-bacaan Belanda ke dalam bahasa Sunda. Karya-karyanya ditulis dengan menggunakan gaya dan bahasa yang sederhana serta dapat dipahami oleh masyarakat Sunda. Perjalanan Lasminingrat dalam menerjamahkan dan menyadur cerita juga menjadi salah satu cara untuk memperluas akses bacaan bagi masyarakat. Pada masa tersebut, bahan ajar dan bacaan berbahasa Sunda untuk anak-anak masih terbatas. Dengan menghadirkan bahan bacaan yang mudah dipahami oleh masyarakat, hal ini menunjukkan bahwa bahasa menjadi bagian penting dalam menyebarkan pengetahuan. Lasminingrat tidak hanya menghasilkan karya dalam bahasa Sunda, tetapi juga memperkenalkan bacaan kepada masyarakat.

Salah satu karya terjemahan Lasminingrat yaitu Tjarita Erman terjemahan karya Christoph von Schmidt. Berikutnya, pada tahun 1876, Lasminingrat menulis buku Warnasari yang disadur dari karya Marchen von Grimm dan J.A.A Goeverneur (Adeng et al., 2015). Cerita-cerita yang diterjemahkan oleh Lasminingrat tidak hanya berfungsi sebagai bacaan yang menghibur, tetapi juga mengandung pesan moral dan nilai-nilai kehidupan yang disampaikan sebagai bentuk pengetahuan kepada pembaca. Karya-karya Lasminingrat kemudian menjadi salah satu bahan ajar yang digunakan oleh anak-anak di sekolah. Dengan adanya bacaan tersebut, bahasa Sunda menjadi penghubung antara cerita dan pengetahuan dari luar dengan masyarakat yang tidak memiliki kemampuan bahasa Belanda.

wikipedia.org
Lasminingrat beserta suami dan keluarga
(wikipedia.org)

 

Kesadaran Lasminingrat kemudian berkembang menjadi kepedulian terhadap pendidikan untuk kaum perempuan, sehingga diwujudkan dengan melalui pendirian Sakola Kautamaan Istri pada tahun 1907 di Garut. Sekolah tersebut terletak di ruang gamelan pendopo Kabupaten Limbangan Garut. Dalam mendirikan sekolah untuk perempuan tidak terlepas dari pemikiran Raden Dewi Sartika. Raden Ayu Lasminingrat dan Raden Dewi Sartika saling mendukung untuk mewujudkan emansipasi perempuan, khususnya pada bidang pendidikan (Aeni & Fachrurozi, 2022). Tujuan didirikannya Sakola Kautamaan Istri yaitu agar perempuan memiliki ilmu untuk berumah tangga dan mendidik anaknya serta menjadi perempuan mandiri yang dapat mengerjakan urusan rumah tangga (Sofiana, 2020).

Pendidikan di Sakola Kautamaan Istri tidak hanya mencakup membaca dan menulis, tetapi juga terdapat berbagai keterampilan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari perempuan, seperti mencuci, memasak, menjahit, dan menyulam. Sakola Kautamaan Istri menunjukkan bahwa perempuan dapat memperoleh ruang untuk mengembangkan kemampuan dan pengetahuan. Lasminingrat juga menunjukkan bahwa akses pengetahuan dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti buku, bahasa, dan sekolah.

Sakola Kautamaan Istri di Garut
(HarapanRakyat.com)

Perjuangan Lasminingrat tidak hanya terlihat melalui pendirian Sakola Kautamaan Istri, tetapi juga melalui kontribusinya dalam dunia literasi. Penerjemahan yang dilakukan Lasminingrat menunjukkan bahwa perkembangan literasi tidak hanya bergantung pada keberadaan sekolah. Literasi menjadi salah satu bagian dalam perjuangan Lasminingrat, kontribusinya terhadap literasi tidak hanya melalui karya-karya yang dihasilkannya, tetapi juga hadir pada proses penyebaran pengetahuan melalui bahasa Sunda. Penggunaan bahasa Sunda bukan hanya sekadar alat komunikasi, melainkan sebagai media untuk menyampaikan pengetahuan melalui karya tulis.

Raden Ayu Lasminingrat meninggalkan jejaknya melalui literasi dan pendidikan. Perjuangannya menunjukkan bahwa perubahan dapat dilakukan dan dimulai dari hal-hal sederhana. Melalui karya-karyanya dan perhatiannya terhadap pendidikan, Lasminingrat membuka kesempatan untuk belajar dan ruang bagi perempuan yang sebelumnya sangat sulit diperoleh.

 

REFERENSI

Adeng, A., Rusnandar, N., Heryana, A., Theresnawaty, E., Hermana, H., Dahlan, M.H., ... & Purnama, H. (2015). Tokoh sejarah dan budaya di Kabupaten Garut.


Aeni, A. D., & Fachrurozi, M. H. (2022). Gerakan emansipasi perempuan dalam bidang pendidikan di Jawa Barat pada awal abad kedua puluh. Bihari: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Ilmu Sejarah, 5(1).


Harpiah, D., Wardah, E. S., & Fauziyah, S. (2018). Peran Raden Ayu Lasminingrat dalam mengembangkan sekolah keutamaan istri tahun 1907-1948. Tsaqofah,16(2), 223-243.


Sofiana, N. E. (2020). Sekoper Cinta: Sekolah Peningkatan Kualitas Perempuan Di Tatar Sunda. HUMANISMA: Journal of Gender Studies, 4(2), 177-191.

Penulis: Resty Fauziyyah Kurnia

Tags

  • lasminingrat
  • tokohsejarah
  • monperajabar