
Suasana panggung seolah membawa penonton menyusuri jejak masa lalu, ketika air yang semestinya menjadi sumber kehidupan justru menjelma menjadi awal petaka. Melalui gerak tari yang sarat ekspresi, iringan musik yang membangun ketegangan, serta tata artistik yang memperkuat suasana dramatik, kisah tentang keserakahan, kekuasaan, dan penderitaan rakyat perlahan terungkap. Setiap adegan membawa penonton semakin dekat pada sebuah prahara, ketika berkah alam direnggut oleh kepentingan manusia dan harapan akan kehidupan yang sejahtera berbenturan dengan kenyataan pahit penindasan.
Inilah Prahara Leiding Tamboen: Ketika Air Tak Lagi Tawar, sebuah drama tari persembahan Sanggar Margasari Kacrit Putra yang mengangkat kisah getir dari tanah Bekasi. Bukan sekadar cerita tentang air yang berubah rasa, pertunjukan ini menyuguhkan refleksi tentang runtuhnya keseimbangan kehidupan ketika keserakahan mengalahkan nurani. Di balik aliran air yang menghidupi tanah, tersimpan jejak konflik dan perjuangan rakyat kecil yang harus bertahan di tengah tekanan kekuasaan.
Lantas, bagaimana air yang dahulu membawa kesuburan dapat berubah menjadi simbol penderitaan? Dan bagaimana rakyat menghadapi kekuasaan yang menjanjikan solusi, tetapi menyisakan belenggu ketidakadilan? Melalui perpaduan seni tari dan dramatika panggung, kisah ini mengajak penonton menelusuri babak demi babak sejarah yang menyimpan luka sekaligus pelajaran tentang kemanusiaan.

Ketika Berkah Berubah Menjadi Petaka
Kisah bermula dari sebuah tanah yang subur dan makmur. Tirta tawar mengalir sebagai anugerah alam yang menghidupi masyarakat. Air menjadi penopang kehidupan, menyuburkan ladang, menghilangkan dahaga, serta menghadirkan kesejahteraan bagi rakyat yang menggantungkan hidupnya pada alam.
Namun, di balik kemakmuran itu, tersimpan benih petaka. Ketika nafsu dan keserakahan mulai menguasai manusia, keseimbangan kehidupan perlahan runtuh. Kebenaran kehilangan tempatnya, kesucian tersingkir oleh kesombongan, dan suara rakyat kecil tenggelam di tengah kepentingan mereka yang berkuasa.
Alam yang semula menjadi sumber kehidupan seolah ikut menanggung luka. Keserakahan bukan hanya merusak hubungan antarmanusia, melainkan juga mengusik keseimbangan yang selama ini menopang kehidupan masyarakat.
Hingga akhirnya, sabda karma terucap. Air yang dahulu tawar perlahan berubah menjadi asin. Perubahan itu bukan sekadar persoalan rasa, melainkan simbol kehancuran harapan ketika keserakahan manusia melampaui batas. Dahaga yang tak terpadamkan menjadi gambaran penderitaan, sementara tanah yang semula menjanjikan kemakmuran mulai menyimpan kecemasan dan keputusasaan.
Di tengah kemarau dan krisis yang kian mencekam, rakyat dihadapkan pada kenyataan pahit: bertahan hidup menjadi perjuangan yang tidak lagi sederhana.

Leiding Tamboen: Harapan di Balik Bayang-Bayang Kolonialisme
Ketika kehidupan semakin terdesak, datanglah kekuatan kolonial dengan besi-besi asing dan sistem pengairan yang menjanjikan jalan keluar. Kehadiran Leiding Tamboen seolah membawa secercah harapan bagi masyarakat yang membutuhkan air untuk melanjutkan kehidupan.
Namun, di balik janji solusi, tersimpan persoalan yang lebih dalam. Air yang seharusnya mengalir untuk kesejahteraan bersama justru bersinggungan dengan kepentingan penguasa, beban upeti, dan ketidakadilan yang harus ditanggung rakyat.

Harapan pun berbalut belenggu.
Di sinilah konflik cerita menemukan ketajamannya. Sistem yang semestinya menjadi jalan menuju kesejahteraan menghadirkan pertanyaan tentang siapa yang sesungguhnya menikmati kemakmuran dan siapa yang harus membayar harganya. Rakyat kecil kembali berada dalam posisi yang sulit, terhimpit antara kebutuhan untuk bertahan hidup dan tekanan kekuasaan yang membatasi kebebasan mereka.
Air menjadi saksi bisu dari pertarungan itu. Setiap alirannya menyimpan ironi: sesuatu yang begitu mendasar bagi kehidupan dapat berubah menjadi sumber penderitaan ketika keadilan tidak lagi menjadi landasan.
Melalui kisah ini, Prahara Leiding Tamboen mengajak penonton menelusuri jejak masa lalu sekaligus merenungkan persoalan yang melampaui zamannya. Sebab, ketika kepentingan mengalahkan kemanusiaan, berkah dapat berubah menjadi bencana dan pembangunan kehilangan maknanya jika kesejahteraan rakyat justru terabaikan.

Gerak Tari yang Menghidupkan Luka Sejarah
Kisah tersebut dihadirkan melalui drama tari yang memadukan kekuatan cerita dengan ekspresi gerak dan tata artistik panggung. Tubuh para penari menjadi medium untuk menyampaikan pergulatan manusia, gejolak batin, serta ketegangan antara harapan dan penderitaan.
Dramatika cerita membawa penonton menyelami perubahan suasana, dari kehidupan yang semula tenteram menuju prahara yang mengancam. Setiap gerak menjadi bagian dari narasi, sementara komposisi musik, penataan artistik, rias dan busana, serta multimedia memperkuat suasana yang dibangun di atas panggung.
Melalui pendekatan tersebut, sejarah tidak hadir sebagai rangkaian peristiwa yang berjarak, tetapi sebagai pengalaman artistik yang mengajak penonton merasakan pergulatan manusia di dalamnya. Panggung menjadi ruang untuk mempertemukan seni, ingatan kolektif, dan refleksi sosial.
Kekuatan Prahara Leiding Tamboen terletak pada pesan yang dibawanya: di balik perubahan zaman dan berbagai kepentingan kekuasaan, kehidupan rakyat kecil kerap menjadi taruhan. Mereka yang paling membutuhkan air justru dapat menjadi pihak yang paling merasakan dampak ketika keadilan kehilangan tempatnya.

Merawat Ingatan, Menyuarakan Kemanusiaan
Drama tari Prahara Leiding Tamboen: Ketika Air Tak Lagi Tawar merupakan persembahan Sanggar Margasari Kacrit Putra dalam Festival Kreasi Pagelaran Seni Kabupaten Bekasi. Pertunjukan ini berlangsung pada 21 Juli 2026 pukul 15.00 WIB di Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat.
Karya ini digagas oleh Drahim Sada dengan arahan sutradara Samsudin. Produksi dipimpin oleh Silviea Erviliani, dengan Riyanto RA sebagai penata laku dan David Kitsnasto sebagai koreografer. Unsur musikal digarap oleh Yogi Andriyanto sebagai komposer, didukung Hilman Rizki sebagai direktur multimedia, Samsuri sebagai penata artistik, serta Rini Setiawati sebagai penata rias dan busana.
Melalui kolaborasi para seniman tersebut, kisah tentang Leiding Tamboen dihadirkan sebagai bagian dari upaya mengangkat kekayaan cerita dan ekspresi seni budaya daerah. Festival Kreasi Pagelaran Seni menjadi ruang bagi para seniman kabupaten dan kota di Jawa Barat untuk menampilkan kreativitas sekaligus memperkenalkan narasi budaya yang tumbuh dari wilayahnya masing-masing.
Pada akhirnya, Prahara Leiding Tamboen meninggalkan pesan yang menggugah: air tidak pernah sekadar tentang rasa, sebagaimana kekuasaan tidak pernah sekadar tentang siapa yang memegang kendali. Keduanya berbicara tentang kehidupan, keadilan, dan tanggung jawab manusia terhadap sesamanya.

Dari tanah Bekasi, kisah ini mengingatkan kita bahwa kemakmuran sejati tidak lahir dari penindasan, melainkan dari keadilan yang memberi ruang bagi setiap orang untuk hidup dengan layak. Sebab, ketika air kehilangan rasa tawarnya, yang terancam bukan hanya dahaga manusia, tetapi juga nurani yang seharusnya menjaga kehidupan.
Di balik setiap tetes air, ada kehidupan yang harus dijaga. Di balik setiap jejak sejarah, ada suara yang patut didengar. Dan di balik setiap prahara, tersimpan pelajaran bahwa keadilan adalah sumber kesejahteraan yang sesungguhnya.
Penulis: Santi Gantini



