
“Ketika senja jatuh di lereng Gunung Kromong, sejarah tak pernah benar-benar berakhir. Ia hanya menunggu untuk kembali diceritakan.”
Gemuruh tabuhan gamelan perlahan membelah keheningan. Gerak tubuh para penari menyiratkan kegelisahan, sementara tembang dan narasi membawa penonton menyusuri lorong waktu menuju sebuah masa ketika kehormatan, keyakinan, dan persaudaraan diuji oleh perubahan zaman. Di atas panggung Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat, Selasa, 6 Oktober 2026, kisah masa lalu itu kembali hidup melalui drama tari Sandyakala Hing Gunung Kromong, persembahan Kabupaten Cirebon dalam Festival Kreasi Pagelaran Seni.
Pertunjukan yang disutradarai oleh Adang Sunarno ini bukan sekadar menghadirkan keindahan gerak dan irama. Lebih dari itu, ia membuka lembaran sejarah tentang dua nagari, dua pandangan, dan satu akar leluhur yang sama. Sebuah kisah tentang bagaimana perubahan dapat mengguncang persaudaraan, ketika harga diri dan keyakinan perlahan menjelma menjadi bara pertentangan.

Gunung Kromong, Saksi Bisu Pergulatan Zaman
Jauh sebelum batas-batas kekuasaan ditorehkan oleh manusia, Gunung Kromong telah berdiri kokoh menyaksikan perjalanan kehidupan. Hutan beralih menjadi perkampungan, perkampungan tumbuh menjadi nagari, dan generasi demi generasi mewarisi tanah serta nilai-nilai yang ditinggalkan para leluhur.
Di tengah perjalanan panjang itu, Tatar Sunda memasuki persimpangan zaman. Caruban hadir membawa semangat baru dari pesisir, sementara Galuh tetap teguh menjaga kehormatan, tradisi, dan pusaka para karuhun. Dua kekuatan tumbuh dengan cara pandang masing-masing, tetapi keduanya berakar pada tanah dan asal-usul yang sama.
Perbedaan yang semula menjadi bagian dari perjalanan kehidupan perlahan berubah menjadi ujian. Ketika kata-kata tak lagi mampu meredakan ketegangan, harga diri mengambil alih ruang kebijaksanaan. Keyakinan yang dipertahankan dengan kukuh membawa kedua nagari menuju sebuah lelakon yang meninggalkan jejak mendalam dalam ingatan kolektif.
Di sinilah Sandyakala Hing Gunung Kromong menemukan denyut dramatisnya. Senja bukan sekadar penanda berakhirnya hari, melainkan simbol sebuah masa ketika nilai-nilai lama berhadapan dengan perubahan, ketika kesetiaan diuji, dan ketika manusia harus menghadapi konsekuensi dari pilihan-pilihannya sendiri.

Ketika Gerak, Gamelan, dan Tembang Menghidupkan Sejarah
Berpijak pada khazanah Babad Cirebon, kisah ini ditafsirkan melalui bahasa dramatari yang memadukan gerak, musik, tembang, kostum, dan narasi menjadi satu kesatuan pertunjukan. Setiap unsur menghadirkan suasana yang membawa penonton masuk lebih jauh ke dalam pergulatan batin para tokohnya.
Gerak para penari menjadi bahasa yang mengungkapkan hal-hal yang tak selalu mampu disampaikan melalui kata-kata. Ketegangan, keberanian, kesetiaan, dan kegelisahan diterjemahkan melalui tubuh yang bergerak mengikuti dinamika cerita. Tabuhan gamelan menguatkan suasana, membangun ketegangan, sekaligus mengiringi perjalanan emosional dari satu babak menuju babak berikutnya.
Di balik keindahan artistiknya, tersimpan pertanyaan mendasar tentang makna kemuliaan. Apakah kehormatan harus selalu dipertahankan melalui pertentangan? Apakah keyakinan kehilangan nilainya ketika tidak lagi disertai kebijaksanaan? Dan ketika persaudaraan mulai retak, masihkah manusia mampu menemukan jalan untuk kembali?
Pertanyaan-pertanyaan itu menjadikan Sandyakala Hing Gunung Kromong lebih dari sekadar pertunjukan yang mengisahkan masa silam. Ia menjadi ruang perenungan tentang manusia, tentang ambisi yang dapat membutakan, serta tentang kasih dan kebijaksanaan yang senantiasa dibutuhkan untuk memulihkan hubungan yang terluka.

Darah yang Jatuh, Bumi yang Tetap Sama
Gunung Kromong tidak berbicara. Ia tidak berpihak kepada Caruban ataupun Galuh. Ia hanya menjadi saksi atas perjalanan manusia yang datang silih berganti, membawa harapan, mempertahankan keyakinan, dan terkadang terjebak dalam pertentangan.
Pada akhirnya, setiap langkah kembali menuju tanah yang sama. Setiap tetes darah menyatu dengan bumi yang juga diwariskan oleh leluhur yang sama. Gambaran ini menjadi pengingat bahwa kemenangan tidak selalu berarti kemuliaan, sebagaimana kekalahan tidak serta-merta menghapus kehormatan.
Melalui kisah tersebut, penonton diajak melihat sejarah dari sudut pandang yang lebih dalam. Bukan semata-mata tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah, melainkan tentang harga yang harus dibayar ketika persaudaraan dikalahkan oleh ambisi. Sebab, di balik setiap pertentangan, selalu ada manusia yang kehilangan, keluarga yang terluka, dan warisan kebersamaan yang patut diselamatkan.
Sandyakala—senja—menjadi lambang dari sebuah penghujung, tetapi juga menyimpan kemungkinan akan datangnya fajar. Di balik kisah yang sarat ketegangan, terselip harapan bahwa manusia mampu belajar dari masa lalu, menghormati perbedaan, dan menempatkan kebijaksanaan di atas kepentingan diri sendiri.

Persembahan Seni, Penjaga Ingatan Budaya
Dramatari Sandyakala Hing Gunung Kromong disutradarai oleh Adang Sunarno, dengan Ade Irfan sebagai penata tari dan Wiwin Winingsih sebagai penata kostum. Unsur musik digarap oleh Adang, Jafar, Jana, Benu, Candra, Roni, Tura, Di, Kemal, Ferdi, Ade, Wangsa, Rizki, Wira, Dafa Tegar, Lintang, dan Ratu Felisa.
Sementara itu, para penari yang menghidupkan kisah ini adalah Ade Irfan, Jay, Ane, Wiyono, Bahtiar, Rahmawati, Qomariah, Foni, Riana, Syafira, Wira, Defan, Roby, Indah, Andri, Wulan, Sintia, Shimta, Karnidi, Jaya, dan Afid Sonaya. Melalui kerja artistik dan kolaborasi seluruh pendukung, kisah tentang Caruban, Galuh, dan Gunung Kromong dihadirkan kembali sebagai pengalaman seni yang memadukan nilai sejarah, kekuatan dramatik, dan kekayaan budaya Cirebon.
Pementasan yang berlangsung pada pukul 15.00 WIB di Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat ini menjadi bagian dari Festival Kreasi Pagelaran Seni Kabupaten Cirebon, sebuah ruang bagi seni pertunjukan daerah untuk memperkenalkan kekayaan narasi dan ekspresi budaya kepada masyarakat yang lebih luas.
Melalui panggung ini, tradisi tidak hanya dipertahankan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga dihidupkan kembali agar dapat dipahami dan dimaknai oleh generasi masa kini. Sejarah menjadi lebih dekat ketika ia hadir melalui gerak, bunyi, dan cerita yang menyentuh perasaan.

Menemukan Cahaya di Balik Senja
Ketika pertunjukan berakhir, kisah Gunung Kromong tidak serta-merta usai. Ia meninggalkan renungan tentang asal-usul, kehormatan, dan arti persaudaraan yang melampaui batas perbedaan.
Sandyakala Hing Gunung Kromong mengingatkan bahwa warisan leluhur bukan hanya berupa pusaka, tradisi, atau catatan sejarah. Ada nilai yang jauh lebih berharga untuk dijaga: kebijaksanaan dalam menghadapi perubahan, keberanian untuk memahami perbedaan, dan kesadaran bahwa persaudaraan adalah ikatan yang tak seharusnya dikorbankan oleh ambisi.
Sebab, sejarah bukan untuk menghidupkan kembali pertentangan, melainkan untuk menuntun manusia memahami akibat dari setiap pilihan. Dan ketika senja kembali jatuh di lereng Gunung Kromong, ia seolah membisikkan pesan yang sama kepada setiap generasi: kita boleh berbeda dalam pandangan, tetapi jangan pernah melupakan akar yang menyatukan.
Dari tanah Caruban dan Galuh, sebuah pesan diwariskan—bahwa di balik senja yang paling kelam, selalu ada harapan bagi tumbuhnya kebijaksanaan, pulihnya persaudaraan, dan terjaganya harmoni budaya untuk masa depan.
Penulis: Santi Gantini



