Hero section image background

Tapak Juang Dewi Rengganis : Kisah Perjuangan Perempuan Sunda yang Hidup dalam Tradisi Ronggeng Gunung (Festival Kreasi Kab. Pangandaran)

Kamis, 13 Agustus 2026

Artikel

3

Postingan ini dilihat

0

Postingan ini dibagikan

Poster post Tapak Juang Dewi Rengganis : Kisah Perjuangan Perempuan Sunda yang  Hidup dalam Tradisi Ronggeng Gunung (Festival Kreasi Kab. Pangandaran)

Bukan sekadar tarian, Ronggeng Gunung menjadi simbol keberanian, kecerdasan, dan perjuangan seorang perempuan dalam menegakkan keadilan. Kisah heroik Dewi Rengganis kembali dihidupkan melalui Sendratari Tapak Juang Dewi Rengganis dalam Festival Kreasi Pagelaran Seni Kabupaten Pangandaran di Taman Budaya Jawa Barat.

Di balik gerak tari yang gemulai dan iringan musik tradisional, tersimpan kisah perjuangan yang sarat makna. Itulah yang dihadirkan dalam Sendratari Tapak Juang Dewi Rengganis Sebagai Ronggeng Gunung, sebuah karya seni yang mengangkat legenda perempuan tangguh dari tanah Pananjung, Kabupaten Pangandaran.

Dipersembahkan oleh Sanggar Putra Rengganis, pertunjukan ini tidak hanya menyuguhkan keindahan seni tari, tetapi juga membawa penonton menyelami kisah kepahlawanan Dewi Rengganis, sosok perempuan yang teguh pendirian, cerdas dalam menyusun strategi, serta pantang menyerah dalam memperjuangkan keadilan dan kehormatan kerajaannya.

Dewi Rengganis: Keteguhan Hati di Balik Gerak Ronggeng

Kisah Dewi Rengganis bermula dari tragedi yang mengguncang kehidupan dan Kerajaan Pananjung. Kehilangan suami tercinta, Raden Anggalarang, akibat kekejaman bajak laut yang dipimpin Kala Samudra, menjadi titik balik perjalanan hidupnya.

Namun, kehilangan tersebut tidak membuat Dewi Rengganis menyerah pada keadaan. Dengan keberanian, kecerdasan, dan strategi yang matang, ia bertekad melawan kekuatan yang merenggut kebahagiaan serta mengancam kehormatan kerajaannya.

Dalam perjuangannya, Dewi Rengganis menyamar sebagai Ronggeng Gunung. Kesenian yang lekat dengan kehidupan masyarakat Pangandaran itu menjadi bagian dari strategi perjuangannya untuk menghadapi Kala Samudra dan menuntut keadilan.

Di sinilah makna Ronggeng Gunung dalam kisah Dewi Rengganis menjadi begitu istimewa. Ronggeng bukan sekadar pertunjukan untuk menghibur, melainkan juga menjadi media perjuangan. Melalui penyamaran tersebut, Dewi Rengganis menunjukkan bahwa keberanian tidak selalu hadir dalam bentuk kekuatan fisik, tetapi juga melalui kecerdikan, keteguhan hati, dan kemampuan membaca keadaan.

Sosok Dewi Rengganis pun tampil sebagai figur perempuan yang mampu menjalani berbagai fase kehidupan: seorang putri keraton yang berbudi luhur, pemimpin yang dekat dengan rakyat, hingga perempuan pejuang yang berani mengambil risiko demi menegakkan keadilan.

Menghidupkan Legenda, Merawat Identitas Pangandaran

Gagasan Sendratari Tapak Juang Dewi Rengganis berangkat dari kecintaan masyarakat Pangandaran terhadap Ronggeng Gunung, kesenian tradisional yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat setempat.

Hj. Jeje Wiradinata, penggagas sendratari tersebut, menjelaskan bahwa Ronggeng Gunung memiliki keterkaitan dengan sejarah dan legenda yang hidup di tengah masyarakat Pangandaran. Menurutnya, kesenian ini menyimpan nilai dan makna yang lebih dalam daripada sekadar keindahan gerak tari.

Dalam sambutannya, Jeje Wiradinata mengungkapkan bahwa kisah Tapak Juang Dewi Rengganis menjadi salah satu landasan untuk memahami perjalanan dan makna Ronggeng Gunung. Ia juga menyampaikan bahwa pada 1987, di Ciamis, mulai ditemukan penelusuran yang mengaitkan Ronggeng Gunung dengan proses tari Tapak Juang Dewi Rengganis.

Bagi masyarakat Pangandaran, kisah tersebut menjadi bagian penting dari warisan budaya yang patut dikenali dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Melalui sendratari ini, legenda yang hidup dalam ingatan masyarakat diterjemahkan ke dalam bahasa panggung agar dapat dinikmati oleh khalayak yang lebih luas, khususnya generasi muda.

Kehadiran karya ini sekaligus menegaskan bahwa seni tradisional bukanlah peninggalan masa lalu yang berhenti pada bentuk pertunjukannya. Di dalamnya terdapat nilai sejarah, identitas lokal, kearifan, serta pesan kehidupan yang tetap relevan hingga saat ini.

Kolaborasi Seni yang Menghadirkan Pesan Perjuangan

Di atas panggung Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat, kisah Dewi Rengganis dihidupkan melalui kolaborasi para pelaku seni yang menyatukan gerak, musik, tata rias, dan busana dalam satu kesatuan pertunjukan.

Dengan melibatkan sekitar 15 penampil, sendratari ini berada di bawah arahan Pembina Hj. Ida Nurlaela dan Pelindung Iwan Sofa. Iis Rahmini Juni bertindak sebagai koreografer, didukung oleh arranger Asep Diana Chandra dan Rian Teguh Yogaswara. Penanggung jawab pertunjukan adalah Ardi Nugroho, dengan supervisi Sugeng Yudistira.

Sementara itu, penataan busana melibatkan Ghestan Juarno, Ayung Berinda, Clamby Falby, dan Purwalingga Kencana. Penataan rias didukung oleh Uju Juanas, Caesar Jumantri, Iki Hami, Cici Kadafi, Diki Rayadin, Haidar, Koya, Budi Pradita, Robi Hakim, dan Elnuria.

Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam membangun suasana dramatik dan memperkuat karakter setiap tokoh. Setiap unsur artistik tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap visual, tetapi juga membantu menyampaikan emosi, ketegangan, dan semangat perjuangan yang menjadi inti cerita.

Melalui perpaduan unsur tradisi dan penggarapan panggung, Sanggar Putra Rengganis menghadirkan Ronggeng Gunung sebagai ekspresi budaya yang hidup, dinamis, dan mampu menyampaikan pesan kepada penonton lintas generasi.

Lebih dari Pertunjukan, Sebuah Pesan tentang Keberanian Perempuan

Tapak Juang Dewi Rengganis menghadirkan pesan bahwa perempuan memiliki kekuatan untuk menentukan arah kehidupan, menghadapi ketidakadilan, dan mengambil peran penting dalam masyarakat. Keteguhan Dewi Rengganis mengajarkan bahwa keterpurukan bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan dapat menjadi awal untuk bangkit dan menemukan jalan menuju keadilan.

Nilai-nilai luhur perempuan Sunda tercermin melalui sosok Dewi Rengganis yang tegar, bijaksana, berani berkorban, serta memiliki kedekatan dengan rakyatnya. Kisahnya juga mengingatkan bahwa budaya tidak hanya diwariskan melalui bentuk kesenian, tetapi juga melalui nilai dan keteladanan yang terkandung di dalamnya.

Melalui Festival Kreasi Pagelaran Seni, karya ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat kekayaan seni budaya Jawa Barat, sekaligus memahami bahwa setiap tarian tradisional menyimpan cerita yang layak ditelusuri dan diwariskan.

Sendratari Tapak Juang Dewi Rengganis Sebagai Ronggeng Gunung dipentaskan pada 13 Agustus 2026, pukul 15.00 WIB, di Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat. Penampilan ini menjadi salah satu upaya untuk menjaga agar legenda, identitas, dan nilai perjuangan masyarakat Pangandaran tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Sebab, ketika gerak Ronggeng Gunung kembali ditarikan, yang hadir bukan hanya keindahan seni, melainkan juga jejak perjuangan, keteguhan hati, dan semangat perempuan Sunda yang tak pernah padam.

Hayu Urang Jaga Budaya Jawa Barat. Raksa, Rumawat, Rahayu.

 

Penulis: Santi Gantini