Hero section image background

SIMBAR KANCANA NGADEG RAJA : Dari Duka dan Pengkhianatan, Lahir Pemimpin Perempuan yang Mengukir Sejarah Majalengka (Festival Kreasi Kab. Majalengka)

Selasa, 15 September 2026

Artikel

3

Postingan ini dilihat

0

Postingan ini dibagikan

Poster post SIMBAR KANCANA NGADEG RAJA : Dari Duka dan Pengkhianatan, Lahir Pemimpin Perempuan yang Mengukir Sejarah Majalengka (Festival Kreasi Kab. Majalengka)

Dentuman musik menggema, menggetarkan suasana panggung Teater Tertutup Taman Budaya. Dalam temaram cahaya, lantunan seni Gaok mengalun, membuka gerbang kisah tentang pengkhianatan, kehilangan, dan perjuangan meraih keadilan. Gerak para penari berpadu dengan irama musik yang membangun ketegangan, membawa penonton menyusuri lorong waktu menuju Kerajaan Talaga Manggung. Sebuah tragedi besar telah terjadi. Darah sang raja tertumpah akibat pengkhianatan orang terdekat, sementara takhta kerajaan menanti sosok yang sanggup memulihkan kehormatan dan meneruskan kejayaan.

Dari balik luka dan duka, hadir sosok perempuan dengan tatapan penuh keteguhan. Dialah Ratu Simbar Kancana, perempuan yang harus menghadapi kenyataan pahit ketika Patih Palembang Gunung, suaminya sendiri, membunuh ayahandanya, Raja Talaga Manggung. Amarah, kesedihan, dan tekad untuk menegakkan keadilan seolah bertarung dalam dirinya. Namun, Simbar Kancana tidak membiarkan tragedi meruntuhkan keberaniannya. Ia bangkit, melawan pengkhianatan, dan menapaki jalan yang akan membawanya menuju singgasana.

Suasana panggung kian menegangkan ketika kisah perjuangan itu berkembang melalui perpaduan seni Gaok, tari, dan musik. Setiap lantunan menghadirkan jejak tradisi tutur, setiap gerak menyiratkan pergulatan batin, dan setiap irama menguatkan perjalanan seorang perempuan yang berani mengubah duka menjadi kekuatan. Inilah kisah “Simbar Kancana Ngadeg Raja”, sebuah legenda tentang keberanian, martabat, dan lahirnya kepemimpinan perempuan dari tanah Majalengka.

Kisah heroik tersebut dihadirkan dalam pertunjukan “Simbar Kancana Ngadeg Raja”, salah satu sajian Festival Kreasi Pagelaran Seni Kabupaten Majalengka yang berlangsung di Teater Tertutup Taman Budaya, Bandung, pada 15 September 2026 pukul 15.00 WIB. Melalui perpaduan seni Gaok, tari, dan musik, legenda sejarah Majalengka ini dihidupkan kembali dalam sebuah pertunjukan yang memadukan kekuatan tradisi, dramatika, dan pesan kepemimpinan.

Legenda ini disunting dari salah satu catatan mamacan Gaok, tradisi tutur khas Majalengka yang menjadi medium pewarisan cerita dan nilai-nilai budaya. Kisah bermula dari tragedi yang mengguncang Kerajaan Talaga Manggung. Patih Palembang Gunung, yang merupakan suami Simbar Kancana, tega membunuh ayahandanya sendiri, sang Raja Talaga Manggung. Pengkhianatan itu meninggalkan luka sekaligus bara amarah yang membakar hati Simbar Kancana.

Namun, di tengah kehancuran dan kehilangan, Simbar Kancana tidak membiarkan dirinya larut dalam kesedihan. Ia memilih bangkit. Dengan keberanian dan tekad yang membaja, ia menghadapi Patih Palembang Gunung demi menuntaskan dendam atas kematian sang ayah. Keberhasilannya mengalahkan sang patih menjadi titik balik perjalanan hidupnya, sekaligus membuka jalan menuju babak baru bagi Kerajaan Talaga Manggung.

Dari seorang perempuan yang kehilangan ayahanda, lahirlah seorang pemimpin yang berani mengambil tanggung jawab atas masa depan kerajaannya.

Perjalanan Simbar Kancana tidak berhenti pada keberhasilan membalas pengkhianatan. Tantangan sesungguhnya justru dimulai ketika ia harus berdiri di hadapan sejarah dan memikul amanah sebagai penerus takhta. Dengan keberanian dan kebijaksanaan, ia naik takhta sebagai ratu, meneruskan garis kepemimpinan ayahandanya. Ia kemudian memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Talaga Manggung ke Walang Suji, sebuah langkah penting dalam perjalanan sejarah kerajaan tersebut.

Di tangan Simbar Kancana, takhta bukan sekadar lambang kekuasaan, melainkan amanah untuk memulihkan kedamaian, menegakkan keadilan, dan membangun kembali kepercayaan rakyat. Sosoknya menjadi gambaran pemimpin perempuan yang tidak tunduk pada keadaan, tetapi mampu mengubah tragedi menjadi kekuatan dan kehilangan menjadi pijakan untuk melangkah maju.

Kisah tersebut terasa semakin hidup ketika diolah ke dalam bahasa panggung. Seni Gaok menghadirkan kekhasan tradisi lisan Majalengka sebagai sumber cerita, sementara gerak tari mempertegas pergulatan batin, ketegangan, dan keberanian para tokohnya. Iringan musik membangun suasana yang mengalir dari kepedihan dan pengkhianatan menuju ketegangan, kemenangan, hingga kebesaran seorang ratu yang siap memimpin.

Kolaborasi ketiga unsur seni tersebut menjadikan Simbar Kancana Ngadeg Raja lebih dari sekadar penceritaan ulang legenda. Pertunjukan ini merupakan upaya kreatif untuk membawa warisan tutur lokal ke dalam ruang pertunjukan yang lebih luas, sehingga kisah sejarah dan nilai-nilai budaya Majalengka dapat terus dikenal oleh generasi masa kini.

Lakon ini bersumber dari naskah mamacan Gaok karya budayawan Majalengka, Engkos Wangsadiharja. Pertunjukan disutradarai oleh Ketut Aminudin, dengan Nok Cineur sebagai koreografer, Yusan Ahmad Fauzi sebagai penata musik, Endra G sebagai penata lampu, dan Abdul Kholik sebagai penata artistik. Melalui kerja kreatif para seniman tersebut, kisah Simbar Kancana dirangkai menjadi sajian yang menggabungkan kekuatan narasi tradisi dengan ekspresi seni pertunjukan.

Keikutsertaan Kabupaten Majalengka dalam Festival Kreasi Pagelaran Seni menjadi ruang penting untuk memperkenalkan kekayaan cerita daerah kepada masyarakat yang lebih luas. Legenda yang tumbuh dan diwariskan melalui tradisi mamacan Gaok tidak hanya dipertahankan sebagai ingatan masa lalu, tetapi juga dihadirkan kembali melalui bahasa seni yang relevan bagi penonton masa kini.

Pada akhirnya, Simbar Kancana Ngadeg Raja menyampaikan pesan bahwa kepemimpinan sejati lahir bukan semata-mata dari garis keturunan atau kemegahan singgasana, melainkan dari keberanian menghadapi ujian, keteguhan memperjuangkan keadilan, dan kesanggupan mengemban amanah.

Ketika duka menjelma kekuatan dan keberanian mengalahkan ketakutan, Simbar Kancana membuktikan bahwa perempuan pun mampu berdiri di garis depan sejarah. 

Namanya pun dikenang sebagai bagian dari warisan budaya Majalengka, sebuah kisah tentang perjuangan, martabat, dan kepemimpinan yang terus menemukan maknanya dari generasi ke generasi.

Penulis: Santi Gantini