
“Jangan sampai warisan budaya yang telah diperjuangkan oleh para pendahulu hilang begitu saja. Kenali, cintai, pelajari, dan terus kembangkan kesenian tradisi. Jangan malu menjadi generasi yang menjaga budaya sendiri, karena budaya adalah jati diri dan warisan yang harus disampaikan kepada generasi berikutnya.”
Demikian pesan MAK KINANG pelopor Topeng Cisalak kepada generasi muda. Para penerus bangsa jangan hanya menjadi penikmat budaya, tetapi jadilah pelaku dan penjaga budaya, yang memampu mempertahankan nilai-nilai tradisi, berani mengembangkan kesenian agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Pesan utama dari Gesah Mak Kinang yang terangkum dalam tiga kata “Rawat, Lanjutkan, Wariskan”.

Kisah Mak Kinang ini dipagelarkan di Festival Kreasi Pagelaran Seni Kota Depok dengan Judul “Gesah Mak Kinang” yang bertempat di Teater Tertutup Taman Budaya 4 Agustus 2026. Dengan melibatkan sekitar 40 pelaku seni, cerita diawali dengan tampilan Mak Kinang yang memberikan nasehat kepada anak-anaknya agar selalu mencintai seni dan budaya sendiri.

Mak Kinang terlahir di tahun 1918. Berawal dari kecintaannya kepada seni tradisi, Mak Kinang membuat sebuat kelompok kesenian. Kelompok seni ini diciptakan dengan memadukan tari, musik, lakon serta cerita yang mengandung nilai-nilai kehidupan masyarakat Betawi. Terciptalah tarian Topeng Cisalak. Dalam situasi yang terbatas dan perubahan zaman Mak Kinang tetap teguh dan tangguh dalam merawat identitas budaya.

Mak Kinang tidak hanya sebagai seniman tapi juga sebagai perempuan yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk menjaga warisan budaya. Kisahnya ini tentang pengorbanan, keteguhan hati dan cinta terhadap budaya leluhur. Berkat dedikasinya yang kuat dan mengakar, Topeng Cisalak, sampai saat ini masih bertahan. Ditengah perkembangan jaman modern, Topeng Cisalak masih ditampilkan di panggung-panggung terbuka dan terus hidup berkembang dan sebagai salah satu warisan budaya masyarakat Depok dan Betawi.

Mak Kinang juga melahirkan karya tari yang berakar dari Topeng Betawi, yaitu Tari Topeng Tunggal dan Tari Gegot. Topeng Tunggal menampilkan keindahan teknik, karakter, dan ekspresi seorang penari dalam membawakan beberapa tokoh hanya dengan pergantian topeng. Karya ini menjadi salah satu ikon dalam pelestarian Tari Topeng Betawi. Sedangkan Tari Gegot merupakan karya yang terinspirasi dari semangat, kelincahan, dan keceriaan masyarakat Betawi. Tari ini menghadirkan gerak-gerak yang dinamis, enerjik, dan tetap mempertahankan ciri khas Topeng Betawi sehingga mudah dipelajari sekaligus menarik untuk dipentaskan di berbagai kesempatan.
Hingga akhir hayatnya, perjalanan Mak Kinang tidak berhenti pada penciptaan karya saja. Ia terus membimbing banyak penari, pelatih dan sanggar seni agar kesenian Topeng Betawi tetap hidup. Perjuangan Mak Kinang terus berdedikasi dengan ketekunannya lahirlah generasi-generasi penerus yang hingga kini turut mengajarkan dan mementaskan tari topeng di berbagai tempat.

Topeng Cisalak pada awalnya merupakan seni pertunjukan rakyat yang memadukan beberapa unsur seni yaitu, tari, music tradisional, lakon atau cerita, nyanyian, dialog, unsur lawakan dan nilai-nilai kehidupan masyarakat. Pertunjukan ini tidak hanya sebagai hiburan, juga menjadi media untuk menyampaikan nasihat, kritik sosial, nilai moral serta gambaran kehidupan masyarakat.
Penulis: Santi Gantini



