
Dentuman kendang menggema, tabuhan gamelan mengalun membangun ketegangan, sementara gerak tubuh para penari menghadirkan suasana yang kian mencekam. Di atas panggung, kemewahan dan kesombongan Nyi Endit berhadapan dengan kepedihan rakyat kecil yang terhimpit kemiskinan. Ekspresi wajah yang tajam, gerak tari yang dinamis, serta perpaduan drama dan musik tradisional membawa penonton menyusuri kisah tentang kekayaan yang membutakan hati dan karma yang tak terhindarkan.
Suasana semakin dramatis ketika keserakahan bertemu dengan penderitaan, hingga sebuah peristiwa mengubah segalanya. Air yang menyembur deras menjadi gambaran kehancuran, menenggelamkan harta yang selama ini dibanggakan sekaligus mengakhiri kesombongan sang pemiliknya. Inilah kisah “Kahieuman Cai Karma”, legenda Situ Bagendit dari Kabupaten Garut yang dihidupkan kembali melalui pertunjukan drama tari persembahan Sanggar Galura Kencana dalam Festival Kreasi Pagelaran Seni Kabupaten Garut.
Bukan sekadar mengisahkan asal-usul sebuah danau, pertunjukan ini mengajak penonton menyelami pergulatan kemanusiaan: tentang kekayaan yang kehilangan makna ketika tidak disertai kepedulian, tentang kesombongan yang menutup mata terhadap penderitaan sesama, dan tentang akibat dari setiap pilihan yang diperbuat manusia.

Nyi Endit dan Kekayaan yang Membutakan Hati
Di sebuah kawasan yang kini dikenal sebagai Kabupaten Garut, hiduplah seorang perempuan bernama Nyi Endit, atau Nyai Bagendit. Setelah suaminya meninggal dunia, ia mewarisi kekayaan yang berlimpah. Tanah yang luas, hasil panen, serta harta benda menjadikannya salah satu sosok paling berada di lingkungannya.
Namun, kekayaan yang semestinya menjadi jalan untuk menebarkan kebaikan justru menjelma menjadi sumber kesombongan. Nyi Endit larut dalam kemewahan dan merasa dirinya lebih tinggi daripada orang-orang di sekitarnya. Ia gemar memamerkan hartanya, mempekerjakan banyak pengawal, serta menagih utang dengan bunga tinggi. Para petani yang hidup dalam keterbatasan pun terdesak, bahkan harus menjual hasil panen mereka dengan harga yang sangat murah.
Sementara rakyat kecil berjuang mempertahankan hidup, Nyi Endit justru semakin menikmati kemewahan. Hatinya seolah tertutup oleh kilau harta, hingga ia tak lagi mampu melihat penderitaan yang terbentang di depan matanya.
Ketika musim paceklik tiba, keadaan semakin memilukan. Persediaan makanan menipis, ladang tak lagi memberikan hasil yang memadai, dan keluarga-keluarga miskin harus berjuang melawan lapar. Di tengah kesulitan itu, harapan sederhana warga hanyalah mendapatkan sedikit makanan untuk menyambung hidup.
Namun, di rumah megah Nyi Endit, makanan berlimpah tersaji di tengah pesta pora. Kontras antara kemewahan dan penderitaan menjadi gambaran getir tentang kekayaan yang kehilangan makna ketika tidak disertai rasa kemanusiaan.

Sepotong Permintaan yang Berujung Petaka
Di tengah suasana pesta, datanglah seorang pengemis tua dengan pakaian compang-camping. Tubuhnya menyimpan keletihan, sementara langkahnya menggambarkan perjalanan panjang demi mencari sesuap makanan.
Dengan suara lirih, ia memohon sedikit makanan untuk mengusir rasa lapar. Permintaan yang begitu sederhana, yang seharusnya dapat dijawab dengan belas kasih, justru disambut dengan penghinaan.
Nyi Endit menolak dan mengusirnya dengan kasar. Baginya, pengemis itu hanyalah orang miskin yang tidak pantas mengusik kenyamanan hidupnya. Bahkan, ia memerintahkan para pengawalnya untuk membuang makanan yang diberikan warga, seolah-olah kepedulian terhadap sesama merupakan sesuatu yang tidak bernilai.
Di titik inilah kisah tersebut mencapai pergulatan kemanusiaannya. Bukan karena Nyi Endit tidak memiliki sesuatu untuk dibagikan, melainkan karena ia memilih untuk tidak peduli. Bukan karena makanan tidak tersedia, melainkan karena kesombongan telah mengalahkan belas kasih.
Tanpa disadari Nyi Endit, pengemis tua yang diusirnya bukanlah orang biasa. Di balik penampilannya yang sederhana, tersimpan kesaktian yang akan mengubah nasib seluruh desa.

Lidi Kecil, Bencana Besar
Setelah menerima perlakuan yang menyakitkan, pengemis tua itu menancapkan sebatang lidi atau tongkat kayu di depan rumah Nyi Endit. Ia kemudian menantang siapa pun untuk mencabutnya.
Para pengawal dan orang-orang di sekitar Nyi Endit mencoba menarik lidi tersebut, tetapi tak seorang pun berhasil. Kesombongan yang selama ini berdiri kokoh di balik kekuasaan dan kekayaan seakan berhadapan dengan sesuatu yang tak mampu mereka taklukkan.
Ketika semua usaha menemui kegagalan, pengemis tua itu sendiri mencabut lidi tersebut.
Seketika, air menyembur dari tanah dengan deras. Aliran air yang semula tak terbendung perlahan berubah menjadi bencana besar. Desa yang sebelumnya dipenuhi kehidupan mulai ditelan genangan. Rumah-rumah, ladang, dan harta benda yang selama ini dibanggakan Nyi Endit perlahan tenggelam bersama derasnya air.
Di tengah kepanikan, kekayaan yang dahulu menjadi sumber kesombongan tak lagi mampu menyelamatkannya. Harta yang begitu mati-matian dipertahankan justru menjadi saksi bisu kehancuran. Nyi Endit pun harus menghadapi akibat dari sikap dan pilihan hidupnya sendiri.
Air terus meninggi, menenggelamkan kawasan tersebut hingga membentuk sebuah danau yang kemudian dikenal sebagai Situ Bagendit. Nama yang hingga kini melekat dalam ingatan masyarakat Garut itu menjadi bagian dari legenda yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kisah tersebut mengingatkan bahwa tidak ada kekayaan yang mampu menjamin keselamatan ketika manusia kehilangan kepedulian. Kesombongan mungkin membuat seseorang merasa berkuasa, tetapi tidak pernah menjadikannya kebal terhadap akibat dari perbuatannya.

Menghidupkan Legenda, Merawat Pesan Budaya
Melalui drama tari “Kahieuman Cai Karma”, legenda Situ Bagendit dihadirkan kembali dalam bahasa gerak, musik, ekspresi, dan penghayatan para penampil. Setiap adegan menjadi ruang untuk menggambarkan pertentangan antara kemewahan dan kemiskinan, kesombongan dan kerendahan hati, serta kekuasaan dan penderitaan rakyat kecil.
Perpaduan drama dan tari tidak hanya memperkuat ketegangan alur cerita, tetapi juga membuka ruang bagi penonton untuk merasakan emosi para tokohnya. Penderitaan warga menghadirkan empati, sikap Nyi Endit memantik kegelisahan, sementara datangnya bencana menjadi puncak dramatik yang menegaskan bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi.
Di balik kisah yang sarat tragedi, tersimpan pesan yang tetap relevan hingga kini: kekayaan sejati tidak hanya diukur dari apa yang dimiliki, tetapi juga dari kebaikan yang diberikan kepada sesama. Sebab, ketika manusia menutup mata terhadap penderitaan orang lain, ia sesungguhnya sedang kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada harta benda—yakni hati nurani.
Legenda Situ Bagendit pun tidak berhenti sebagai cerita tentang sebuah danau. Ia menjadi pengingat bahwa kemanusiaan harus tetap hidup di tengah kemewahan, bahwa kepedulian merupakan bagian penting dari kehidupan bersama, dan bahwa keserakahan pada akhirnya dapat membawa kehancuran.
Melalui karya ini, Sanggar Galura Kencana turut menghadirkan kekayaan cerita rakyat Garut sebagai bagian dari warisan budaya yang patut dirawat, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Persembahan Seni dari Kabupaten Garut
Drama tari “Kahieuman Cai Karma” dipentaskan pada Sabtu, 11 Juli 2026, pukul 15.00 WIB, di Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat, dalam rangkaian Festival Kreasi Pagelaran Seni Kabupaten Garut.
Karya ini dipersembahkan oleh Sanggar Galura Kencana, dengan Inda sebagai penulis, Bambang Joko Basuki sebagai koreografer, Panji Triyadi sebagai penata karawitan, Gan Gan Galih Gandara sebagai pelatih, Ajeng Destri Fitrianti sebagai penata rias, Sanggar Galura Kencana sebagai penata busana, serta YHK sebagai penata cahaya.
Melalui kreativitas dan kerja kolaboratif para seniman, “Kahieuman Cai Karma” menjadi bukti bahwa legenda lokal dapat terus hidup melalui panggung pertunjukan. Bukan hanya sebagai hiburan, melainkan juga sebagai sarana pewarisan nilai, penguatan identitas daerah, dan pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia, sesama, dan alam.
Sebab, ketika keserakahan menguasai hati, kekayaan dapat lenyap ditelan bencana. Namun, ketika kepedulian tumbuh dalam diri, nilai kemanusiaan akan tetap hidup melampaui zaman.
Penulis: Santi Gantini



